Inilah sepotong rupa seni rupa Medan yang punya ceritanya sendiri. Ada kesan yang sampai saat ini masih terasa di kalangan penggiat atau penikmat seni rupa di Medan. Kesan itu ialah, Medan bukanlah tempatnya seniman rupa untuk berkarya dan menunjukkan eksistensinya sebagai perupa. Kota ini belum dianggap sebagai kota yang strategis untuk dijadikan semacam industri seni.

Benarkah begitu?

Ada banyak alasan dan pendapat mengenai kenyataan itu. Ada yang menilai stigma itu muncul akibat kurang aktifnya perupa-perupa Medan untuk menunjukkan eksistensinya. Perupa dianggap kurang jeli menangkap peluang seni rupa, minim ide dan wacana dan belum bisa mendekatkan diri dengan masyarakat. Sehingga seni rupa masih belum dianggap penting. Perupa Medan juga dianggap kurang terbuka dengan dunia seni rupa luar yang sudah maju sekian langkah.

Sehingga, tiga pilar yang paling berperan menopang kehidupan seni rupa di Medan belum berdiri kuat, yaitu perupa, galeri dan kolektor, belum mampu berdiri sejajar. “Akibatnya, perupa berjalan sendirian, galeri tidak menggairahkan dan kolektor pun nyaris tidak bersemangat,” ujar Franky Pandana, salah satu kolektor lukisan Medan yang beberapa tahun ini aktif mengamati perkembangan seni rupa di Medan.

Pada perkembangannya, Medan memang telah melalui banyak masa yang tujuannya untuk membuat dirinya menjadi salah satu kota seni rupa. Setidaknya kota ini mendapat lirikan berarti dari kolektor seni, baik lokal, domestik maupun mancanegara. Upaya-upaya telah dilakukan oleh para perupa maupun para akademisi yang berkecimpung di dunia seni rupa. Salah satunya ialah mendirikan galeri

Galeri Tong Sampah

Pada tahun 1990-an, Mangatas Pasaribu dan sejumlah perupa Medan pernah mendirikan galeri seni bernama “Galeri Seni Tong Sampah”. Menurut Mangatas, perupa yang juga merupakan dosen seni rupa di Universitas Negeri Medan itu, galeri ini awalnya bertujuan untuk memperkenalkan seni kontemporer di Medan. “Sebab, ada begitu banyak persepsi tentang seni kontemporer waktu itu di Medan, maka didirikanlah galeri ini,” jelas Mangatas yang ditemui penulis suatu kali di kediamannya.

Untuk menununjukkan eksistensi dan fungsinya, Mangatas yang waktu itu bekerjasama dengan beberapa perupa Medan, kerap menggelar pameran lukisan dengan mengusung konsep kontemporer. Misalnya, menggelar ‘painting act’ dengan mempempertemukan beberapa penggiat karikatur. Karikatur Medan, Basuki (Hu Wie Tian) yang waktu itu cukup tenar sebagai karikatur di harian Analisa Medan (ikon kartun Pak Tung-tung) dipertemukan dengan GM Sidharta, yang waktu itu masih aktif sebagai karikatur untuk harian Kompas, Jakarta dengan ikon kartun Oom Pasikom.

Setidaknya, kata Mangatas, lebih dari cukup sudah dilakukan Galeri Tong Sampah terhadap perkembangan seni rupa Medan. Selain pameran atau ‘painting action’, beberapa kali digelar juga diskusi seni rupa dengan mendatangkan kalangan perupa, akademi maupun beberapa kalangan awam yang menggemari seni rupa. Sayangnya, tampaknya upaya itu tak berlangsung lama dan terpaksa tutup beberapa tahun kemudian.

Galeri Tondi

Setelah Galeri Tong Sampah, pernah juga berdiri galeri seni rupa yang aktif menggelar pameran secara rutin. Galeri itu bernama Tondi, di Jalan Keladi Buntu No. 3 Medan, didirikan tahun 2006 dan dikelola oleh seniman perempuan Grace Siregar. Tondi—yang berarti ‘roh dalam Bahasa Batak—setidaknya berhasil menarik simpati media dan publik.

Grace Siregar – Galeri Tondi. Foto: Dok. Varagraf

“Saya ingin membangkitkan seni rupa yang sedang tertidur,” kata Grace dalam sebuah wawancara kepada penulis di tahun 2007. Di galeri sederhana itu digelar pameran rutin sekali dalam sebulan. Beberapa perupa Medan yang pernah berpameran di galeri ini antaranya Togu Sinambela, Jonson Pasaribu, Mangatas Pasaribu, tak hanya perupa lokal tapi seniman dari Jawa, sebut saja misalnya Heri Dono, Yose Rizal, Reins Asmara, Komunitas Seni Sahala (Deppi Tarigan, Yanal Desmond, Julister Sinurat, Sudarson Hutabarat), komunitas anak jalanan the Bamboes, dan sejumlah perupa lokal lainnya.

Beberapa kali Grace juga mendatangkan sejumlah seniman dari Jawa dan tidak selalu dari kalangan perupa. Sebut saja misalnya Dolorosa Sinaga, Heri Dono, fotografer Oscar Motulloh, sastrawan Ayu Utami, Iconk maupun sejumlah karya-karya visual perupa Aborigin.

Yang menarik, ialah Tondi cukup berhasil mendekatkan diri dengan masyarakat Medan yang masih awam dengan seni rupa dengan pendekatan yang lebih populer. Misalnya, dengan mengundang sejumlah seniman di luar seni rupa, seperti Rapper Ucok Munthe, Tongam Sirait, aksi teatrikal Thomson Hutasoit dan Mateus Suwarsono, penyair Slamet Khairi dan lain-lain. Sayangnya lagi, Tondi harus ditutup untuk sementara di tahun 2009 karena harus pindah ke Inggris.

Setelah Galeri Tong Sampah tutup usia, muncul kemudian Galeri Sanggar Rowo, digagas dan didirikan oleh M Yatim. Dan beberapa galeri yang dikelola secara independen, seperti Medan Seni Payung Teduh, Lindi Fine Art Gallery maupun artshop seperti Deedeedo Arts Gallery and Frames. Semuanya menjadi bagian dari seni rupa Medan yang harapannya kelak menjadi barometer seni rupa Indonesia.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five − four =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.