Musik indie Medan memiliki ceritanya sendiri. Dia berjalan panjang dan bisa dikatakan agak naik turun. Kadang begitu terasa euforianya, kadang seperti mati suri. Namun yang pasti, pergerakannya tetap ada.

Semangat indie menjalar di jalur-jalur yang menjadi bagian industri musik itu sendiri, di antaranya label rekaman, identitas bermusik dan sistem distribusi yang mengandalkan komunitas.

Mari kita runut satu persatu, kita awali dari semangat indie yang menjadi ideologi dalam industri musik sebagai upaya untuk eksis di tengah jalur mainstream yang masih dan akan selalu menguasai pasar industri musik di belahan dunia manapun.

Industri rekaman berlabel indie (independent), barangkali bukan hal baru di kalangan para penggiat musik dewasa ini. Di kota-kota besar Indonesia, industri rekaman indie label bahkan sudah menjadi tren tersendiri. Mereka rupanya tak mau ketinggalan dengan gejolak industri rekaman major label seperti Musica Studio’s, Sony BMG, EMI maupun Universal Music Group (Polygram) yang selama ini mendominasi pasar.

Di mana pun, fenomena perkembangan industri rekaman indie sebenarnya tak bisa lepas dari gejolak kreativitas band indie di wilayah itu sendiri. Yang paling tampak mencolok kita bisa menilik apa yang terjadi di daratan Eropa—yang paling dominan di Inggris—hingga Amerika Serikat (AS). Ini ditandai dengan lahirnya sederetan rekaman berlabel indie.

Diperkirakan jumlahnya sekitar 500-an label indie di seluruh daratan Eropa dan AS! Diikuti dengan band yang jumlahnya juga membludak. Apa sebenarnya dasar kelahiran indie label? Dan mengapa pula “gerakan”indie, yang masih disebut gerakan minoritas ini, kian merebak hinggamerambah ke Indonesia, yang mulai muncul pesat pada awal tahun 1990-an.

Indie Label

Di Eropa dan AS, sejarah kelahiran musik berlabel indie pada awalnya mulai berkembang pesat pada dekade 1960-an dan 1980-an ketika industri musik dunia perlahan-lahan mulai tersentralisasi oleh label major. Indie label kemudian masuk dengan caranya sendiri, yang pada akhrinya memposisikan dirinya sebagai rival label major yang telah dianggap sebagai “mainstream”.

Itu artinya, mereka yang berjalan diarus indie label mau tidak mau harus lebih kreatif, baik dari segi karya hingga strategi promosi dan distribusi. Ketika label major menguasai media mainstream; TV dan radio, major label menempatkan dirinya seiringan. Yang pada akhirnya menjadikan musik yang duduk di major label itu sendiri lebih unggul dibandingkan mereka yang berkutat di jalur indie.

Yang jelas kekuatan media promosi ternyata sangat penting dan berharga. Masalah baru muncul ketika indie label tak bisa menjadi demikian karena terkadang masih terbentur persoalan idealisme bermusik yang tak sejalan dengan daya secara finansial. Ini lagi-lagi termasuk soal media promosi, yang ternyata berharga mahal.

Fingerprint. Foto: Dok. Varagraf

Belum lagi jalur distribusi yang kadangkala tersendat oleh minimnya akses penerimaan agar bagaimana musik indie bisa diterima tak beda dengan apa yang terjadi dengan musik berlabel major.

Ketika musik berlabel major memiliki sistem distribusi musik yang linknya lebih tersentralisasi dan ekspansif, mau tidak mau indie label harus mengaku kalah cepat karena masih harus menempatkan musik merekadari distro ke distro; yang tentu memiliki efek promosi yang jauh lebih minim. Itu masih satu hal: distribusi dan promosi! Belum lagi soal karya musiknya, yang diharapkan mampu melakukan apa yang telah dilakukan label major. Bahkan kalau bisa lebih! Inilah motivasi pergerakan musik indie label.

“Salah satu kelemahan indie label memang di situ,” jelas Reza Pohan suatu kali. Reza adalah anak Medan yang pada 2006 pernah mendirikan label indie bernama “HuriaRecord!” dan mendirikan toko musik Garasi—menjual koleksi album-album lama dalam format vinyl. Namun demikian, pada dasarnya musik indie tak selalu mengagungkan kebesaran sebuah nama melalui promosi yang “wah!’, sungguh ekspansif. Tapi, lebih pada eksistensi dan penerimaan terhadap musik mereka sendiri. Ada band kecil, yang bisa tetap eksis karena “dihidupi” fansnya yang mungkin kecil juga.

Band Indie Lokal

DI MEDAN, ada band yang nyaris mirip seperti itu. Salah satunya adalah Street Punk Rockers (SPR), yang telah menelurkan 3 album di bawah label rekaman lokal, yakni “Evilusound Rekord”, label yang didirikan Ivan, salah satu penggiat arus musik indie label di Medan. Keempat album itu ialah “Stevenson Oi” dan “Revolution” pada tahun 2000 dan “Sabotase” pada tahun 2007. November 2012 lalu, band yang sudah eksis sejak tahun 1999 ini kembali merilis album barunya berjudul “Reputasi Murahan”.

“Kalau tidak didasari dengan semangat untuk terus bermusik, mungkin SPR tidak akan eksis sampai sekarang. Sebenarnya untuk eksis di kota seperti Medan itu terasa berat,” ujar Aditia Zulmi, Band Manager SPR. Salah satu yang menjadi penyebabnya ialah masih kuatnya dominasi mainstream lewat televisi dan radio yang lebih dominan mencekoki pendengar musik produksi label besar.

Boris, salah satu personil SPR, mengatakan, “Bagi kami musik ialah sebuah pola pikir independen. Kami tidak pernah bermimpi muluk-muluk jadi band besar seperti band-band yang lahir dari label mainstream. Kami hanya ingin tetap eksis tanpa harus menodai semangat ‘indie’, yang sejak awal menjadi spirit bermusik kami.”

Satu lagi band lokal yang masih eksis sampai sekarang ialah Fingerprint, yang sudah berdiri sejak 2002. Band yang mengusung genre musik hardcore ini memulai debut rekamannya dengan merilis mini album berjudul “Soldier Meet the Warriors” pada tahun 2004 dan eksis dari panggung ke panggung komunitas musik tertentu.

Fingerprint hidup di tengah komunitas penggemar musik yang mereka usung sebagai semangat bermusik mereka. Bahkan, menyadari pentingnya komunitas dalam industri musik indie, band juga mendirikan “Hard Most Crew”, komunitas penggemar yang selalu hadir dalam setiap performance mereka.

SPR. Foto: Dok. Varagraf

Selain menghidupi band dari panggung dan penjualan album yang jumlahnya tidak terbilang besar –sekitar 500-an keping yang dipasarkan melalui distro dan hand by hand—dibandingkan dengan mainstream, band ini juga mencoba mencoba melekatkan identitas dan semangat bermusik mereka dengan mengeluarkan produk-produk merchandise berupa kaus oblong, stikker, dan lain-lain.

Sayangnya, menurut Adit, dengan segala upaya yang telah dilakukan band-band sekelas lokal, kadangkala masih mengalami stagnansi. Ini pulalah yang sering mematahkan semangat band-band lokal dan berakibat hilangnya nama mereka satu persatu dari permukaan industri musik lokal. Hanya band yang memiliki idealisme bermusik yang tinggi yang bisa bertahan.

Fingerprint sendiri, ujar Adit, meski eskis hingga sekarang, tidak mengganggap musik sebagai kreatifitas yang dapat dijadikan pegangan hidup. Masing-masing personil bahkan mengeluarkan dana pribadi dari pekerjaan tetap mereka untuk menghidupi band. “Kalau mengharapkan sepenuhnya dari band, tidak. Kalau bisa dibilang, bermusik menjadi sebuah pelampiasan ekpresi dan menjaga eksistensi saja. Bahkan, demi hobi yang tidak terlepaskan,” ujar Adit.

Berjalan dengan Caranya Masing-masing

Tak hanya SPR dan Fingerprint, di Medan sendiri ada beberapa band indie yang pernah eksis meskipun tidak banyak berumur panjang. Semisal, Cherry Cola, Korine Conception, Army Clown, Sinar Band maupun Beautiful Monday yang pernah dikabarkan telah menjalani proses rekaman untuk album band perdana di Jakarta. Belakangan, personilnya terpecah dan bergabung dengan band lain.

KEBANYAKAN BAND INDIE MEDAN eksis dengan caranya masing-masing. SPR misalnya, yang hidup dari panggung ke panggung atas undangan beberapa event organizer maupun penjualan album.

Meski demikian, semangat bermusik band Medan seolah tidak akan pernah padam. Mereka berjalan dengan caranya masing-masing. Ada yang mengekspresikan eksistensi bandnya dengan membuat mini album tanpa peduli apakah album itu akan berdampak ke depan atau tidak.

Artinya, masih ada optimisme, termasuk dari label rekaman yang sewaktu-waktu bisa menjadi tempat bernaung band-band lokal. Optimisme itu jugalah yang masih membuat sejumlah studio rekaman di Medan masih bertahan.

“Gejolak musik indie di Medan sangat jauh dengan kota lain seperti Bandung misalnya, sangat tidak ada apa-apanya. Kita jauh ketinggalan beberapa langkah dari mereka,” ujar Sofian Sauri, salah satu orang di balik Evilusound Rekord, suatu kali.

Alasan lain yang mungkin saja membuat belum bergaungnya industri musik lokal Medan dikarenakan kualitas bermusik proses kreatifitas yang belum mampu memenuhi selera pasar komunal. Setidaknya anggapan ini datang dari kacamata seorang pebisnis musik, Hansen Teo, pemilik distributor musik bernama ET45.

”Dewasa ini memang tak sedikit band Medan yang memiliki potensi. Sayang, tak didukung dengan keinginan untuk mendirikan band yang solid. Ada band yang karakter vokalnya bagus dan menjual, tapi musiknya kurang mendukung,” kata Hansen. Ini pulalah yang membuatnya mundurnya beberapa produser musik terhadap band-band lokal.

Pendapat Hansen sekaligus menegaskan, semangat indie bukanlah sebuah harga mati untuk dalam industri musik. Dilematis. Di satu sisi, musisi ingin bermusik dan besar dengan sikap idealisme mereka meskipun peluang untuk menjadi besar sangat tipis. Di sisi lain, musisi harus ‘tunduk’ mengikuti selera musik pasar komunal yang telah diciptakan oleh mainstream, dan mereka harus ‘melepaskan’ idealisme mereka dan bersiap-siaplah masuk ke jalur pop. Pilihan ada di tangan musisinya memang…

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 − eight =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.