Mereka Masih Ada

Sudah lama sekali rasanya tidak menginjakkan kaki di toko buku. Maka, pada awal pekan di suatu sore saya pun singgah ke toko buku besar dan ternama di kota ini. Sesampai di sana, saya menelusuri satu per satu rak buku untuk mencari buku yang menurutku layak untuk dibeli dan dibaca.

Ketika melangkah ke bagian rak buku fiksi, mata saya langsung tertuju pada seorang anak muda yang sedang membaca buku di sudut ruangan. Dia sedang membaca buku sambil duduk di lantai. Disandarkannya pundaknya pada bagian kaki rak buku. Mungkin kakinya sudah mulai nyeri karena terlalu lama berdiri sambil membaca buku.

Ketika aku berlalu dari sampingnya, aku memutar bola mataku ke arah buku yang sedang dia baca. O, buku fiksi anak remaja atau istilah kerennya Teenlit. Ow, ternyata bukan hanya si anak muda yang keletihan berdiri. Ketika saya memutar langkah ke kanan, saya menemukan tiga anak perempuan sedang duduk di lantai seraya membaca buku. Juga buku fiksi remaja yang mereka baca.

Mereka samasekali tidak menorehkan pandangannya kepadaku. Tanpa merasa bersalah, tanpa merasa sungkan dan tanpa merasa apalah. Pokoknya mereka asyik saja membaca buku tanpa memperdulikan siapa yang lewat. Barangkali, bila karyawan toko buku itu melintas dari hadapan mereka, mungkin saja mereka tetap cuek.

Ketika melihat mereka, sejenak saya bergumam dalam hati, “Mereka masih ada…”

Terus terang, saya juga dulu seperti mereka. Ketika uang tidak ada tersisa untuk membeli buku karena sudah habis terpakai untuk menutupi kebutuhan biaya kuliah, makan, transportasi dan biaya sehari-hari lainnya, membeli buku adalah hal yang tergolong “mewah”—luxury.

Manalah ada uang anak mahasiswa perantauan beli buku fiksi tentang romansa atau kisah cinta anak muda, ketika membeli buku mata kuliah dasar saja harus beli dari toko buku bajakan? Yang benar sajalah! Jika pun ada yang begituan, ya terasa aneh sajalah.

Sehingga, cara satu-satunya untuk bisa membaca buku fiksi maupun filsafat ialah menjadi pelanggan perpustakaan atau menjadi pengunjung toko buku abadi. Memang perpustakaan ada, namun biasanya buku yang ada di sana umumnya buku-buku lama. Bahkan, kebanyakan buku untuk penunjang di sekolah atau kampus. Sementara di toko buku tersedia banyak buku baru. Tinggal sobek plastiknya, kantongi lalu baca.

Dua hingga tiga jam membaca buku di perpustakaan itu terbilang sangat singkat.

Wajar saja jika sebagian buku di rak toko buku sudah agak gadel, usang dan tidak layak beli. Itu karena ulah orang-orang seperti kami, yang tidak sanggup membeli buku mahal. Salahkah kami?

Apa dosa kami bila kami disalahkan? Bukankah upaya untuk menjadi pintar dan berwawasan itu adalah hak segala bangsa? Ya, setiap orang punya pembenarannya, bukan? Tidak perlu mencari siapa yang salah. Namun, begitulah budaya yang terjadi dengan industri buku kita. Begitulah kondisi yang kadang atau bahkan sering ditemui di toko buku yang sampai sekarang ternyata masih terjadi.

Sampai kapan ini akan berakhir? Barangkali, sepanjang menerbitkan buku adalah sebuah upaya mencari laba, maka saya pikir mereka akan tetap ada. Mereka yang dulu adalah saya juga.

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *