Perempuan Tua

Sekali waktu, aku memang pernah berdoa untuk kampungku agar kembali seperti dulu. Tapi, mungkinkah? Dan apakah kedatangan perempuan tua itu adalah jawaban doaku? Jika ya, sungguh aneh rasanya jika Tuhan telah menghukum mahkluk ciptaan-Nya. Bukankah Ia sang maha pengampun? Akh, entahlah. Yang jelas, sejak kedatangan perempuan tua itu, kampungku kini benar-benar berubah.

Sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Waktu itu, sore hari ketika aku sedang menikmati keindahan bunga-bunga di tamanku, ia singgah di depan pintu pagar rumahku yang kecil tapi berhalaman luas. Langkahnya terhenti karena kelelahan. Aku tak tega melihatnya dan langsung kuhampiri. Sore itu Manaek menemaniku dan kusuruh ia mengambilkan air putih dari dapur.

“Kalian sungguh baik anakku,” aku masih ingat ucapannya itu, membuatku sedikit tersanjung. Tapi, setelah menyeruput air putih dan memakan sebuah goreng pisang, ia pun mulai berbicara aneh dan rasanya mustahil.

Katanya, tak lama lagi kampungku akan tinggal kenangan. “Itu pasti dan sebelumnya akan banyak air mata yang tumpah,” katanya. Ia bahkan tak menjawab pertanyaanku ketika aku bertanya mengapa. Lalu katanya lagi, “berjaga-jagalah sebab kedatangannya seperti pencuri di malam hari.”

“Apakah maksudnya, nek?,” tanyaku. Ia berbicara dengan suara pelan tapi kesannya serius. Tapi lagi-lagi bukan jawaban yang dilontarkannya, melainkan tambahan dari kalimatnya yang rupanya masih belum dilengkapi semuanya. “Doamu akan terkabul dan kampungmu akan disembuhkan dari penyakit yang kini menggerogotinya, tapi itu hanya akan terwujud setelah peristiwa itu berlalu dan iblis-iblisnya dibersihkan,” katanya. Aku semakin tak mengerti. “Berbahagialah, inilah waktunya doamu mulai terjawab.”

Aneh, pikirku. Siapakah gerangan perempuan tua itu? Dari manakah asalnya, aku tak sempat menanyakannya. Ia pun langsung pergi setelah menghabiskan air putih dalam gelasnya. Yang jelas kuingat waktu itu, ia mengenakan kebaya lusuh berwarna coklat berenda. Memakai sarung batik juga berwarna coklat tapi sudah tampak kotor. Kulitnya putih tapi sudah berkerut. Melihat parasnya, aku yakin ia cantik ketika masih gadis, setidaknya menurut dugaanku. Tapi kulit di lehernya sudah menggelambir dan wajahnya berkerut dan kelihatan kusut akibat debu.

Ketika ia merapikan rambutnya yang panjang lurus, sebagian telah memutih dan digulung ke belakang tertutup kain yang dililitkan di kepalanya ia langsung pergi. Tapi sebelumnya ia masih sempat mengucapakan terimakasih karena telah menumpang sejenak di teras rumahku dan meneguk dua gelas air putih.

“Nenek harus pergi, nak,” kataya pamit. “Senja telah tiba. Nenek takut kemalaman.” Jalannya tergesa-gesa seakan-akan masih ada yang akan ditemuinya lagi. Aku bahkan tak sempat menanyakan di mana rumahnya. Maksudku ingin mengantarnya.

***

Aku ingin orang sekampung tahu pertemuanku itu dan berharap mereka berkomentar. Maka di malam harinya, di kedai kopi aku mulai membuka cerita. Akan tetapi tak seorang pun dari mereka yang percaya dengan ceritaku. Justru ejekan yang kudapat.

“Hentikan luluconmu itu. Ngomongmu tak pernah beres. Ada-ada saja. Barangkali kau sedang sakit,” kata Togap menyampari.

“Tidak bang, aku sehat wallafiat,” kubilang.

“Ini serius,” kataku lagi. “Ini menyangkut kelangsungan kampung kita.” Dan mereka benar-benar tak mengacuhkanku. Kedatanganku samasekali tak berhasil menghentikan permainan mereka dengan kartu-kartu itu.

Aku ceritakan lagi. “Sore itu ia bahkan sempat aku beri segelas air putih dan dua potong pisang goreng dilahapnya. Masak aku bohong, bang? Kalau kalian tidak percaya, si Manaek saksinya,” jelasku.

“Ah, si Manaek pula kau kawani,” kata Ojak. Intonasi kalimatnya serasa menghina bocah malang yang hanya karena mengalami keterbelakangan mental itu. Manaek memang sering datang ke rumahku di saat aku sedang menyirami bunga-bungaku, sore dan pagi.

“Sudahlah kalau kalian tak percaya!” kataku lalu pergi meninggalkan mereka.

“Lain kali bawa cerita yang masuk di akal.” Masih kudengar suara seorang dari mereka sambil tertawa mengejek. “Aneh-aneh saja, jangan-jangan udah tidak waras lagi dia.” Mereka pun tertawa.

Kampungku memang sudah banyak berubah sebelum peristiwa yang membawa malapetaka itu terjadi. Bahkan, belakangan perobahan itu semakin menjadi-jadi sejak antena parabola menjamur di kampung kami. Kedai kopi semakin ramai saja. Tingkah laku penduduk kampungku pun drastis berubah. Para suami mulai malas ke ladang. Ibu-ibunya mulai menor penampilannya dan mulai suka bergosip. Anak-anak mudanya, sudah berkurang sopannya. Gadis-gadisnya tidak sungkan-sungkan mengobral cintanya secara tak pandang bulu, berlagak seperti artis-artis sinetron yang kisah mereka sering jadi bahan obrolan serius di rumah-rumah.

Orang-orang asing sering datang. Katanya, mereka dari rombongan pemerintahan pusat, kontraktor serta pengusaha yang sedang mengecek kampung kami. Tapi anehnya, gadis-gadis kampung kami semakin sering pulang pagi dan diantar dengan mobil oleh orang-orang asing itu. Itu terjadi sejak diberlakukannya otonomi desa. Belakangan kepala desa mengatakan bahwa di kampung kami akan didirikan pabrik pengolahan. Pemilik modalnya dari kampung sebelah dan nanti akan menampung banyak tenaga kerja, apalagi katanya diutamakan penduduk kampung.

Tak lama kemudian rencana itu digelar. Tapi yang timbul justru persoalan antarkampung soal pemindahan makam-makam para leluhur mereka yang usianya sudah ratusan tahun. Di antaranya makam kakek si Manaek, yang dulu dikenal gigih memperjuangkan kampung dari penjajah. Belakangan, segerombolan preman datang dan memberi penawaran. Tapi, mereka akan membongkar paksa kuburan-kuburan itu jika penawaran tidak diacuhkan.

“Uangmu tak bisa menggantikan rasa hormat kami kepada leluhur kami,” kata seorang dari mereka.

“Tapi, perlakuan hormat kepada leluhur tak akan mampu merobah nasib kalian dari kemiskinan,” kata seorang dari rombongan pembongkar paksa itu. Begitulah akhirnya, perdebatan berlangsung lama hingga terjadi permusuhan di antara mereka. Tak sedikit yang akhirnya setuju dan tak banyak yang menentang penawaran itu. Itu sudah berlangsung lama dan waktu itu pembangunan pabrik itu sudah dimulai dan hampir selesai dibangun.

***

Esoknya aku pergi ke rumah Jonas, pastor yang baru setahun bertugas di kampungku. Waktu itu, pagi hari, kami duduk di sebuah taman kecil, lebih kecil dari milikku. Ia lebih sering diam dan merenung ketika aku menceritakan hal itu padanya. “Mungkin saja ia benar,” katanya. Hanya kalimat itu yang sering dikatakannya selama hampir satu jam pertemuan itu.

Nampaknya ia sangat hati-hati betul berkomentar. Tapi ketika aku akan segera beranjak meninggalakannya tiba-tiba ia memanggilku..

“Aku juga pernah bertemu dengan perempuan tua itu.” Suaranya pelan sekali seperti berbisik. “Tapi aku tidak ingin penduduk kampung tahu soal itu karena mereka memang akan menertawakannya,” katanya.

“Lantas apakah pastor percaya dengan ucapan perempuan tua itu,” tanyaku dengan sopan dan menjaga pembicaraan sedapat mungkin agar ia berterus terang. Kembali ia diam dan merenung sejenak. “Itulah yang menjadi salah satu permenunganku hingga kini,” katanya kemudian. Sejak pertemuan itu, hingga kini aku belum bertemu dengan Pastor Jonas.

Kemudian aku menemui Oppu Sunggu, seorang yang dikenal mengetahui seluk beluk kampungku, yang kelak menjadi sumber pertanyaan para wartawan. Ia memang selamat setelah kejadian itu dan sejak saat itu wajahnya sering muncul di koran dan TV.

Hari sudah siang ketika aku tiba di rumahnya. “Ada apa Sintong,” katanya dengan suara tak jelas. Kebiasaanya mengunyah biji pinang memang belum berhenti. “Begini oppung,” kataku membuka cerita yang sama.

“Ah, kalau soal itu sudah kutahu.” Ia sudah duduk bersila sejak aku mulai bercerita.

“Sejak kapan, oppung?,” tanyaku.

“Sejak sore itu,” katanya. Persis setelah pertemuanku. Oppu Sunggu mulai menjelaskan dan mengutarakan ramalannya, meskipun sebenarnya aku tidak begitu percaya mistis.

“Kita,“ katanya. “Oppung Si Romonang Bulan sudah sering menasehati kita lewat kejadian-kejadian aneh di kampung kita ini. Masih ingatkah kau dengan peristiwa meluapnya kolam ikan si Tagor lima tahun yang lalu?,” katanya. Aku masih ingat peristiwa tragis itu.

“Perempuan tua itu benar. Bahkan sebelum ia datang, ia sudah memberitahuku lewat mimpi.” Oppu Sunggu menjelaskan mimpinya. “Akan ada musibah besar.” Begitu ramalannya.

Segera aku meninggalkannya dan bergegas ke rumah Pak Miduk, kepala kampung. Aku berharap ia akan mengambil langkah sigap setelah mendengar ceritaku. Tapi, ia hanya menggeleng-geleng. Di akhir ceritaku ia berkomentar. “Tak mungkinlah itu terjadi,” ucapnya. “Soalnya menurut kabar yang kami terima dari badan percuacaan nasional, kampung kita aman,” katanya.

***

Suara tangis bayi sore itu membangunkanku lagi entah yang keberapa kali, sejak tiga hari terakhir aku mengurung diri di rumahku yang kebetulan bertingkat. Di mana Manaek, sahabatku itu? Oh, ternyata ia tidur di sampingku. Aku tahu ia pasti lelah setelah seharian menguras dan mencoba membendung derasnya aliran air yang ingin singgah ke rumahku. Tidurnya ngorok. Dua hari berikunya, petugas berhasil menemukan kami dan membawa kami ke pengungsian. Hanya sedikit yang kutemui di sana. “Di mana mereka semua?,” aku tanya pada petugas.

“Aku juga tak tahu. Bukankah kampung ini dikenal dengan penduduknya terpadat di antara kampung-kampung lain di desa ini? Tapi, entah ke mana semua. Mayatnya saja susah ditemukan,” jawabannya membuatku bingung.

Esok harinya aku menyaksikan kampungku yang mulai banyak dibicarakan orang di TV. Aku menyaksikan Pak Miduk, kepala kampung kami sedang diwawancarai oleh Rosita Puspita, pembawa acara berita kesohor karena pertanyaan-pertanyaannya yang terkenal skeptis, tajam dan kritis. Pak Miduk terlihat pucat dan gagap ketika berkomentar. “Aaa, mmmh, aaa… barangkali, dan sepertinya, ini…? Mmmh… .“

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *