Goodbye Google+

Bagi Anda yang selama ini setengah hati menggunakan layanan Google+ (plus), maka inilah saatnya mengucapkan goodbye (selamat tinggal) pada aplikasi media sosial pertemanan besutan Google itu. Sebab, mulai Senin (8/10/2018) Google telah menutup layanan itu, sebagaimana mereka umumkan di blog resminya. Apa sebab? Masih seputar kebocoran data pengguna. Sekitar tiga atau empat tahun lalu, Google+ sempat diprediksi bakal menyaingi aplikasi media sosial seperti Facebook maupun Twitter. Namun, prediksi mentah, apalagi setelah munculnya Instagram. Pengguna yang sempat menggunakannya, seperti tak selera lagi dengannya. Padahal, bagi setiap pemilik akun Google, sangat mudah untuk mendaftarkannya, tinggal klik tanda + di menu kanan atas, daftar identitas, langsung jadi. Belakangan, layanan ini lebih sering digunakan untuk berbagi postingan video YouTube, yang tak lain juga merupakan produk Google. Berakhirnya Google+ dipicu terbongkarnya celah keamanan (bug) di media sosial Google+ yang mengekspos 500.000 data pribadi pengguna. Data itu mencakup nama, alamat e-mail, pekerjaan, jenis kelamin, umur, dan data-data lain yang dimasukkan pengguna saat mendaftar. Insiden keamanan ini sudah terjadi selama tiga tahun, dari 2015 hingga Maret 2018.  Walau celah keamanan itu telah berhasil ditambal, namun Google memutuskan untuk menghentikan layanan jejaring sosialnya itu. Ada alasan Google tutup mulut selama berbulan-bulan, pasca-memperbaiki celah keamanannya. Menurut sumber dalam, Google tak ingin mengundang pengawasan ketat dari regulator. Selain itu, Google juga ingin mengumumkan insiden ini jika manajemen internal sudah membuat keputusan yang bulat, yakni menutup Google+ untuk selama-lamanya. “Kami akan menon-aktifkan Google+ untuk konsumen,” begitu tertera pada blog resmi Google itu.

Project Strobe

Bukan cuma persoalan keamanan yang memicu Google menutup Google+, tetapi juga kesadaran bahwa layanan tersebut tak memenuhi ekspektasi pengguna. Sebanyak 90 persen pengguna Google+ membuka akun mereka kurang dari lima detik. “Versi konsumen dari Google+ memiliki tingkat penggunaan dan ikatan (engagement) yang sangat rendah,” Google mengakui. Ke depan, Google bakal fokus meningkatkan keamanan pada layanan-layanannya melalui program audit yang dinamai “Project Strobe”. Program inilah yang pertama kali membuat Google sadar ada bug di Google+ selama bertahun-tahun. Project Strobe secara umum bakal mengkaji akses para pengembang pihak ketiga ke data-data Google dan perangkat Android. Pada kasus Google+, ada 438 aplikasi pihak ketiga yang menggunakan API dengan bug berisiko.

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *