August 13, 2018 0 Comments Perspektif

Lampu Merah

Gerimis pagi ini mengingatkanku pada hujan yang begitu lebat semalam. Aku belum berniat beranjak dari kasurku. Di sini, di kamar yang nyaman untuk seukuran anak muda setangguh aku untuk hidup di kota, gerimis sering membuatku malas untuk mandi pagi. Tidurku sangat nyenyak semalam. Padahal, aku baru bisa tidur pukul tiga dini hari tadi. Itu karena aku melintasi lampu merah ketika hujan lebat sedang mengguyur kota ini semalaman. Wanita tua itu lagi-lagi menggangguku.

Entah kenapa aku merasa sedikit lebih tenang dari biasanya ketika mendengar kabar bahwa wanita tua yang membuat rumahnya tepat di kaki lampu merah itu, sudah mati. Setidaknya, pertanyaanku tentang dia tidak perlu kuulangi lagi sebelum aku tidur. Misalnya, tentang bagaimana ia bisa tidur di bawah langit yang menusuk bila gerimis belum juga berhenti sampai pagi, seperti pagi ini. Atau, bagaimana ia bisa bertahan menahan perut kosong di tengah dinginnya malam, dan pertanyaan-pertanyaan lain.

“Dia sudah mati.” Seorang gadis muda memastikan kematian wanita tua yang terlentang di pulau jalan, hanya dua meter jauhnya dari kaki lampu merah itu.

“Duh, kasihan sekali, ya.” Teman si gadis turut prihatin. Aku juga tak mau hanya diam. Tampak dua petugas polisi berseragam lengkap dengan mobil patroli. Tapi, mereka belum mengevakuasinya. Kelihatannya mereka sedang menunggu-nunggu hingga petugas yang lebih berkompeten datang mengevakuasi wanita tua — korban kejahatan sosial itu. Begitukah?

Seorang wartawan dari koran kriminal sibuk ke sana ke mari dengan catatan dan pena di tangannya. Selain polisi, ia juga mewawancarai beberapa orang saksi. Tak lupa ia juga memotret wanita tua itu.

“Semalam masih hidup,” kubilang pada beberapa orang di sampingku tanpa melihat wajah mereka.

“Wajahnya kok bengkak seperti itu?” pertanyaan basa-basi yang tak perlu dilontarkan keluar dari mulut yang lain, semestinya.

“Iya, ya… wajahnya kok begitu? Ngeri ya…”

Mereka terheran-heran. Aku juga.

“Aku juga melihatnya. Semalam memang masih hidup,” kata yang lain. Kami memang tak mau dibilang bahwa selama ini kami sama sekali mengabaikan kehadiran wanita tua itu di kota kami ini. Karena, kota kami sejak dulu dikenal ramah. Menjunjung tinggi sekali nilai-nilai moral kemanusiaan. Jadi, kejadian seperti ini sebenarnya sangat tidak kami inginkan. Apalagi jika penduduk kota tetangga kami mengetahuinya. Kami akan malu. Mau ditaruh di mana muka walikota kami nanti?

Siapa pula tak mengenal wanita tua itu. Sungguh aneh jika demikian. Sebab, ia tinggal persis di tengah-tengah kota kami yang cantik ini. Persis dua meter dari kaki lampu merah di perempatan jalan di mana tugu anugerah Adipura terpancang kokoh. Sehingga kalau lampu merah sedang menyala, para pengendara bisa melihatnya dengan jelas sekali. Tak heran, aku sendiri mengingat betul bagaimana rupa wajahnya. Karena aku memang sering melihatnya bila kebetulan melintas dan berhenti di bawah lampu merah itu.

Sebenarnya, ia sendiri tak pernah menengok padaku. Maka aku yakin dia pasti tidak mengenal aku. Juga, orang-orang lain yang sering melintasi lampu merah itu. Ia tak pernah mengangkat tangannya, meminta uang atau makanan. Tak pernah pula dia mengeluh karena lapar, mungkin. Atau sengaja memelaskan wajahnya supaya perhatian setiap pengendara yang melintasinya, iba padanya.

Aku heran. Ada apa sebenarnya dengan dia. Di manakah saudaranya. Dan bagaimana pula ceritanya, kok, terdampar di kota yang begitu egois ini. Apakah ia tak tahu sebelumnya soal itu. Harusnya ia tahu.

Ini mengusikku. Haruskah begitu? Harusnya tidak.

Ada yang lebih mengusikku lagi. Aku pernah berpikir bahwa ia adalah wanita tua malang yang sedang menjalani karmanya. Pikiran seperti itu acap kali terlintas bila melihat tiga cincin bermata besar di jari tangan kanannya. Benarkah dulu ia adalah seorang dukun sakti, tapi gagal karena musuhnya, dan sebagai hukumannya ia terdampar ke jalanan yang begitu keras ini? Ah, aku tak tahu. Pertanyaan bodoh itu. Tapi, itulah beberapa pertanyaan yang selalu terlintas bila melewati wanita tua itu.

Ah, mengapa lagi harus kutemui hal seperti ini di dunia ini.

Berulang-ulang hal itu aku tanyakan dalam benakku bila aku melintasinya atau berada menunggu lampu merah menjadi hijau. Sebenarnya persis di sampingnya. Jarak kami hanya bisa begitu dekat. Dan aku bisa merasakan bau tubuhnya yang sungguh-sungguh tak sedap. Entah berapa bulan sudah ia tak mandi. Aku bisa mengenalnya dari kejauhan dari pakaian yang selalu ia kenakan, jaket buluk hijau dan kain sarung hitam penutup bagian bawah tubuhnya. Rambutnya dikepang entah berapa. Aku tak tahu model rambut macam apa itu.

Kutaksir umurnya pasti di atas 50-an. Tapi, entahlah. Paling tidak ia lebih tua dari ibuku. Perkiraanku pasti tak meleset bila melihat garis-garis mukanya, kerutan wajahnya yang kasar, dan tatapan matanya yang menunjukkan keletihan yang begitu luar biasa. Aku tak sanggup menatapnya lama, sebenarnya.

Pernah sekali aku disemprot oleh pengendara sedan mewah di belakangku ketika lampu jalan itu sudah menyala hijau. Itu karena aku tak melihat ke depan. Tapi ke wanita tua itu. Klakson sedan itu menghardikku sehingga aku terkejut. Di kota ini sedetik sama kurangajarnya dengan siksaan sebulan bila sedang menunggu di bawah lampu merah.

Dan, begitulah, aku tak ingin dianggap orang gila di kota ini.

***

“Sayang, kenapa aku selalu gelisah setelah wanita tua di lampu merah itu. Aku belum ingin tidur malam ini. Kantukku sudah hilang. Kenapa mesti ada manusia yang hidup seperti itu di dunia ini. Mengapa kita begitu egois.”

Dengan bahasa sedikit hati-hati, pesan singkat itu kukirim ke pacarku. Tak sampai dua menit, balasannya langsung kuterima.

“Apalah yang bisa kita buat, sayang. Hanya doa yang bisa kita lakukan. Tapi, apa kamu tidak ingat apa kata Pastor Surya tadi, burung pipit saja diperhatikannya, apalagi kita manusia. Tuhan telah menentukan jalan hidup kita masing-masing.”

Seketika kuteringat pada Lazarus, lelaki pengemis yang tercampak di jalanan namun akhirnya bertemu dengan Abraham di surga. Lebih mudah memasukkan sehelai jerami ke lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke surga. Tapi, jawaban itu tak begitu saja membuatku puas. Maka kubalas lagi.

“Benar, sayang. Tapi, apakah hanya berdoa saja cukup?”

“Dengan mendoakannya, paling tidak kamu peduli dengan dia. Semoga Tuhan mendengarnya. Kita juga bisa membantunya kalau kita mau, dengan memberi dari kekurangan kita. Kenapa tidak?”

Aku berpikir sejenak. Ucapannya memang benar. Tapi, kenyataannya kami tak pernah benar-benar melakukannya walaupun sering berniat untuknya. Alasan yang lebih kuat lagi, aku sendiri belum siap dianggap jadi manusia aneh seperti itu. Ya, perbuatan seperti itu, meskipun telah diajarkan pada kami sejak kecil, baik di sekolah dan gereja, kenyataannya sangat sulit untuk aku lakukan. Maka, lebih baik wanita tua itu dibiarkan saja. Bukan begitu? Tanpa makan, tanpa minum, dan biarkan juga ia berperang sendiri melawan dinginnya malam dan kejamnya siksaan guyuran hujan lebat.

Aku belum mau dianggap gila di kota ini.

“Sebenarnya kita telah membantunya. Setiap minggu kita telah memberikan persembahan ke gereja. Dan walikota kita pun selalu menagih pajak dari masyarakat. Lalu, apakah memang tak ada sikap pemerintah kita untuk tuna wisma seperti wanita tua itu di negeri ini. Herannya, gereja pun selalu sibuk dengan pembanguan gereja yang lebih megah. Padahal, katanya, manusia harus saling mengasihi satu sama lain.”

Mudah-mudahan jawaban itu mampu mempertahankan sikap awalku. Apakah ia mengerti kegalauan hatiku? Aku belum mengerti apa itu cinta kasih. Tak kupahami juga untuk apa dua kata yang menjadi satu itu diciptakan. Begitu sulit aku melakukannya. Ini seperti pertanyaan anak kecil yang baru bisa bicara. Konyol. Dan sebenarnya soal sepele ini tak perlu kuulangi. Membicarakan kehidupan memang tak akan selalu sama kebenarannya dengan bagaimana menerjemahkannya dalam kehidupan.

Aku tak ingin dianggap gila di kota ini.

Agak lama, tapi balasannya datang juga.

“Sudahlah, berdebat denganmu aku memang selalu kalah. Sebaiknya kamu berdoa buat dia. Setidaknya hatimu tenang. Jangan lama tidur, ya, besok kan kamu harus bekerja.”

Tak kubalas. Jawabannya belum bisa membuat aku tenang.

***

“Dia memang sudah mati.”

“Kasihan sekali, ya.”

Seharusnya ungkapan ini tak kusahuti dengan mengatakan “ya”. Tapi, aku telah melakukannya. Buat apa aku menyesalinya.

Aku meninggalkan pacarku di sudut jalan. Aku ingin melihat wanita tua itu untuk yang terakhir kalinya.

Perasaan yang tak biasa kurasakan saat itu. Harusnya aku merasa sedikit lebih lega. Karena ini adalah kali terakhir aku akan melihatnya. Esok tidak lagi. Dan ia tak akan mengusik malam-malamku lagi, sebelum aku tidur. Atau ketika aku melintasi lampu merah itu.

Tim evakuasi belum juga datang. Jadi keramaian itu pun belum berakhir. Sebagian menggunakan kesempatan itu untuk reuni. Aku pun sempat menemui beberapa teman kuliahku dulu yang ngobrol-ngobrol sambil merokok. Tapi, tak lama karena aku harus mengantar pacarku pulang.

“Sudah?”

Pertanyaan itu seakan-akan mengisyaratkan bahwa aku benar-benar menemui wanita tua itu untuk terakhir kalinya.

“Sudah. Kasihan sekali. Akhirnya ibu itu mati juga.”

“Setiap manusia memiliki jalan hidupnya. Dia telah menyelesaikan kehidupannya dengan akhir yang sedih. Tapi, siapa tahu kehidupan sesudah kematian. Hanya Tuhan yang tahu.”

Pernyataan bijak pacarku yang nyaris seperti ucapan seorang biarawati itu seharusnya membuatku lebih tenang. Tapi, apa alasanku untuk tidak tenang, sebenarnya. Tidak ada. Aku sendiri tak pernah memberikan apa-apa pada wanita tua itu. Dan dia bukan siapa-siapaku, kan?

Aku iri melihat sikap pacarku yang begitu alami.

Tak lama kemudian, beberapa polisi lagi datang. Wanita tua itu langsung dievakuasi. Kerumunan jadi lebih sesak dari sebelumnya. Perhatian mereka kembali ke wanita tua itu. Ia segera diangkut.

Hanya beberapa menit kerumunan segera bubar. Beberapa masih tinggal dengan sisa cerita yang sudah mulai mengabur. Wartawan dari koran kriminal itu belum pulang. Sepertinya ia ingin membuat berita besar dari kisah kecil ini. Ia tampak masih mewawancarai beberapa saksi lagi. Seharusnya ia mewawancarai aku. Karena aku lebih memiliki kedekatan emosi dengan wanita tua itu, sekalipun kami tidak saling mengenal. Aku yakin sang wartawan itu akan menjadikan peristiwa ini menjadi berita yang sebombastis mungkin. Dengan foto besar dan berwarna. Semoga saja tidak di halaman satu. Kupikir itu akan menjadi berita aneh!

Persimpangan lampu merah itu kembali seperti biasanya. Merah berati hijau. Selebihnya, aku tak tahu apa arti hijau dan kuning.

“Mulai besok kita tidak akan menemui ibu itu lagi.” Pacarku tak langsung menjawab. Aku tahu, sebenarnya, ia sudah lelah sejak sepulang kerja tadi sore. Ia sudah mengantuk.

“Artinya, kecemasanmu sudah mulai reda?”

“Mmm, begitulah,” kubilang.

Kami diam beberapa saat. Lalu pecah dengan pertanyaan lagi. Pertanyaan pacarku kali ini sedikit membuatku terusik.

“Tapi, ke manakah wanita tua itu akan dibawa?”

“Aku tak tahu.”

“Di mana ia akan dikubur?”

“Manalah aku tahu. ”

“Apakah ia akan dikubur begitu saja tanpa mencari tahu dulu siapa keluarganya?”

Aku diam. Kutatap sebentar wajah pacarku. “Tidak tahu.” Aku lalu menjelaskan bagaimana dengan nasib para tuna wisma di negeri Paman Sam, seperti yang kubaca dalam novel John Grisham, The Street Lawyer.

“Kita kan di Indonesia.”

“Oke. Tapi, seharusnya tidak.”

Meskipun keluarganya tidak ditemukan atau tak ada yang mengaku sebagai keluarganya, wanita tua itu harus tetap dikubur dengan layak sebagaimana ia seorang manusia yang sama berharganya dengan manusia lain. Aku pikir tak ada perbedaan di antara manusia lagi ketika mereka sudah mati. Titik.

“Semoga…” Apa urusanku untuk mencemaskan wanita tua itu. Sebenarnya tidak ada. Aku tak ingin malam ini tidurku terganggu lagi. Sehingga aku malas untuk mandi pagi di kota yang dingin ini.

***

Pagi ini, aku masih malas untuk beranjak dari kasurku. Gerimis yang belum berhenti sejak semalam membuat aku malas untuk mandi pagi. Tidurku tak begitu nyenyak semalam. Wanita tua itu lagi-lagi mengusikku.

Medan, 1 Juli – 2 Agustus 2008