Doa dan Puisi untuk Tragedi Kapal Tenggelam di Danau Toba

Doa dan puisi untuk tragedi kapal tenggelam di Danau Toba menggema dalam acara Andung-andung Tao Toba di Taman Budaya Sumatra Utara, Medan, Sabtu (30/6) malam lalu. Rangkaian acara yang digelar komunitas lintas seni dan budaya bernama Harmoni Toba itu merupakan bentuk empati terhadap tragedi tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di Danau Toba, 18 Juni 2018.

Antusiasme dan solidaritas seniman di Sumut terasa menggema. Sederetan komunitas seni yang terdiri dari pemusik tradisional mewakili etnik Batak Toba, Karo, Simalungun dan Mandaling, bergantian menyampaikan doa melalui nada, bunyi, doa dan puisi. Antara lain, band etnik Arunika, musisi etnik Martahan Sitohang bersama Ikatan Mahasiswa Etnomusikologi USU, Himpunan Mahasiswa Simalungun (Himapsi), Parfi Sumut, Sihoda, budayawan Jones Gultom, Idris Pasaribu. Juga sejumlah elemen masyarakat yang konsern di bidang budaya dan lingkungan Danau Toba, seperti Forum Sisingamangaraja XII, Jendela Toba, Komunitas Sastra Indonesia.

Ojak Manalu bersama rekan-rekannya di Harmoni Toba mengatakan, rangkaian acara ini tercetus sepekan lalu setelah muncul ide dari beberapa orang yang menginginkan digelarnya acara doa dan solidaritas untuk korban kapal tenggelam KM Sinar Bangun, yang sampai saat ini masih dalam proses pencarian korban.

“Kita sangat respek kepada rekan-rekan komunitas seni yang mau berkontribusi dalam acara Andung-andung Tao Toba malam ini. Ini merupakan bentuk empati kita kepada korban dan juga seruan kepada semua elemen terkait di Danau Toba agar ke depan tidak terjadi lagi kejadian serupa,” terangnya.

Sementara itu, menurut Robert Simanjuntak dari Forum Sisingamangaraja XII mengatakan, acara ini merupakan langkah awal untuk Danau Toba yang lebih baik. Itulah mengapa disebut Harmoni Toba, yang mengutip judul buku sastrawan Sitor Situmorang “Toba Nasae”. Di sana, tercetus sebuah mimpi tentang Toba yang sempurna.

“Jadi kita harapkan nanti, setelah dari rangkaian acara ini, ada lagi aksi solidaritas yang langsung kepada keluarga korban. Salah satunya dengan mencetuskan adanya monumen tragedi kapal tenggelam KM Sinar Bangun. Monumen itu menjadi penanda tragedi ini, agar generasi mendatang tidak lupa. Dan kita disadarkan bahwa pernah terjadi peristiwa seperti ini di Danau Toba,” jelasnya di sela-sela acara.

Adapun budayawan Batak, Jones Gultom, mengharapkan gerakan seni untuk masyarakat seperti ini dapat terjaga, sehingga komunitas seni di Sumut dapat menunjukkan peranannya. Menurutnya, pada momen seperti inilah seharusnya komunitas seni menunjukkan rasa sensitifitasnya agar masyarakat tergerak dan tersadarkan. Salah satunya untuk mengajak kesadaran kolektif untuk Danau Toba yang lebih baik.

“Kita sama-sama tahu apa yang terjadi dengan Danau Toba saat ini, ada program untuk skala besar, seperti Geopark dan pariwisata internasional. Tapi, jangan hanya investor diberi karpet merah, tapi kearifan lokal dilupakan. pada posisi ini,” harusnya ada gerakan seni dan budaya di dalamnya,” ujar Jones.

Puncak acara Andung-andung Tao Toba ditutup dengan penyalaan lilin bersama dan penyampaikan doa dan puisi yang mengajak semua elemen di Danau Toba, mulai dari masyarakat hingga pemerintah daerah dan pusat, benar-benar peduli pada Danau Toba.

Seperti diketahui Danau Toba merupakan satu dari sepuluh kawasan pengembangan pariwisata nasional yang digalakakkan Presiden Jokowi. Pembangunan hendaknya tidak hanya pada fisik (infrastruktur dan program), tapi juga mental dan kedasaran masyarakat terhadap kelestarian alam dan kearifan lokal.

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *