Memahami Esensi Paragraf

Memahami esensi paragraf merupakan elemen penting untuk penulis. Sebab, pekerjaan menulis tidak lepas dari menyusun paragraf yang terdiri dari kalimat dan pemilihan kata yang tepat, sehingga mampu menyampaikan pesan dengan efektif.

Paragraf menjadi kata yang menarik perhatian saya, sehingga akhirnya memutuskan menggunakan domain varagraf untuk blog ini. Varagraf sebenarnya merupakan singkatan dari dua kata yang saling berkaitan dalam dunia penulisan dan dokumentasi. Dua kata itu ialah visual dan paragraf, disingkat menjadi varagraf.

Ini berkaitan dengan profesi saya sebagai jurnalis, penulis, blogger yang juga gemar dengan dunia visual seperti fotografi, seni rupa dan belakangan mulai tertarik dengan video, seiring dengan semakin populernya YouTube, di mana para blogger mulai gemar mengupload video di layaran streaming milik Google itu. Istilah vlogger belakangan makin populer untuk menyebut video blogger.

Dalam dunia kepenulisan, paragraf merupakan elemen penting. Sebuah tulisan terdiri dari runutan paragraf yang saling berhubungan atau saling memiliki keterkaitan atau relevansi. Bila dipersempit lagi, paragraf terdiri dari kalimat yang saling berhubungan. Bisa berhubungan sebab akibat, atau hubungan saling menjelaskan. Menjelaskan dijelaskan.

Saya ingin menjabarkan arti paragraf dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI menjelaskan kata paragraf:

pa.ra.graf

n bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru); alinea

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, penjelasan mengenai paragraf di KBBI masih terlalu minim. Artinya, masih bisa dijelaskan lebih luas sesuai dengan konteks dan penggunaannya.

Apabila ingin mengaplikasikan esensi paragraf ke dalam praktik kepenulisan jurnalisme, maka paragraf berarti satu rangkaian kalimat yang mengandung satu kesatuan informasi yang dapat dikaitkan ke paragrag berikutnya.

Jika ingin mengaplikasikannya untuk penulisan esai, maka paragraf berarti serangkaian kalimat yang mengandung satu kesatuan ide, buah pikiran atau gagasan.

Sementara, bila ingin mengaplikasikannya ke dalam kepenulisan narasi atau features, maka esensi paragraf dapat berarti “potongan gambar” yang nantinya akan dapat dikaitkan ke “potongan gambar” berikutnya, sehingga terciptalah sebuah tulisan narasi yang konfrehensif, jelas, mengalir dan mampu memunculkan imajinasi saat membacanya.

Bagaimana cara menciptakan paragraf berbentuk “potongan gambar” yang saling berkaitan dalam narasi?

Di situlah letak kreatitas penulis. Kemampuan merangkai kata demi kata menjadi satu kalimat dan menjadi sebuah paragraf memerlukan referensi kata yang kaya.

Dalam hal ini, pemilihan kata (diksi) sesuai dengan konteksnya sangat menentukan kualitas paragraf. Seperti seorang pelukis, seorang penulis memiliki imajinasinya sendiri untuk merangkai kata atas diksi demi diksi. Pemilihan kata yang tepat sesuai dengan imajinasi penulis akan mampu menciptakan paragraf imajinatif, kaya makna dan bahkan punya rasa, atau bisa melahirkan ekstase.

Sekarang, di era akses informasi mengandalkan internet dengan mesin pencari seperti Google, bagaimana pula kriteria paragraf yang baik?

Pengertian baik dalam konteks Google berkaitan dengan algoritma Google untuk mengoptimalkan satu tulisan dengan topik tertentu di mesin pencari. Karena itu, ada rumus tertentu yang perlu diperhatikan agar sebuah paragraf dapat mengoptimasi dirinya ke mesin pencari, atau istilah populernya disebut SEO (Search Engine Optimation).

Sehingga, paragraf yang baik menurut algoritma mesin pencari Google harus SEO friendly. Sebuah paragraf harus ringkas, padat dan memiliki satu gagasan yang jernih sehingga mudah dimengerti robot Google. Paragraf yang jernih ini, selain terdiri dari kalimat yang runut, juga memiliki makna yang jelas.

Seberapa panjangkah idealnya sebuah paragraf?

Dalam sebuah tulisan jurnalisme, sebaiknya satu paragraf tidak terlalu panjang, namun sebaiknya tetap memiliki satu kesatuan informasi. Bisa saja hanya satu kalimat, dua atau tiga kalimat. Namun, lain halnya dalam sebuah karya sastra, satu paragraf bisa lebih panjang.

Hal ini bisa terjadi karena detail bisa jadi kian perlu untuk narasi karya sastra. Sedangkan untuk tulisan jurnalisme, misalnya straight news, kalimat yang pendek-pendek namun padat kian diperlukan untuk spasi dan waktu bagi pembaca.

Bagaimana pula paragraf untuk sebuah tulisan blog yang SEO friendly?

Tulisan blog di era mesin pencari Google beda lagi. Menurut pakar SEO Yoast, paragraf yang memiliki nilai keterbacaan (readibility) yang baik untuk mesin pencari Google, sebaiknya tidak terlalu panjang. Dalam satu paragraf, sebaiknya juga terdiri dari kalimat yang tidak terlalu panjang. Idealnya, satu kalimat tidak lebih lebih dari 20 kata.

Sekarang, jenis tulisan apa yang akan Anda tulis?

Jika Anda ingin menulis tulisan jurnalistik, narasi sastra dan non-fiksi, atau tulisan untuk konten website maupun blog, Anda dapat menyesuaikan kriteria paragraf yang sebaiknya Anda terapkan. Satu hal lagi, saat menulis, selain mengacu pada fakta dan data, jangan lupa untuk kreatif dan berimajinasi. Mulailah dari merangkai paragraf.

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *