Royal Wedding dan Wujud Nyata Imajinasi Disney

Berbagai isu mewarnai Royal Wedding, yaitu pernikahan Pangeran Harry dan Meghan Markle, yang menjadi isu yang hangat dibicarakan di berbagai media hiburan selama beberapa pekan ini. Mulai dari latar belakang keluarga Meghan Markle, ketidakhadiran sang ayah di acara pernikahannya, aturan-aturan istana Buckingham, hingga keamanan saat prosesi pernikahan sampai-sampai harus menurunkan pasukan sniper untuk mengawasi tiap sudut istana.

Mengapa kerajaan Inggris selalu menarik untuk disoroti? Tentu saja karena kehidupan di dalam kerajaan ini punya sisi drama yang menarik untuk diikuti. Selain punya sisi drama, kehidupan di kerajaan bahkan memiliki sisi entertainment.

Memang, sebagai manusia, sisi kehidupan personal itu memang selalu menarik untuk dibicarakan. Apalagi orang tersebut ialah public figure, selebritis, politikus, pejabat, apalagi kehidupan pangeran seperti yang sering dikisahkan dalam dongeng, tapi ini pangeran dalam kehidupan nyata, seperti Pangeran William dan Pangeran Harry.

Hal ini juga tak lepas dari karakter manusia yang senang dengan gosip, berita tentang kehidupan pribadi orang lain. Informasi mengenai mereka selalu dicari. Orang pingin tahu apa yang mereka lakukan. Itu pulalah yang membuat para fotografer senang mengintip aktivitas mereka melalui kamera dan lensa jarak jauh (tele).

Istana Buckingham, London menyebut mereka papparazi, yaitu para fotografer yang suka mengintai kehidupan penghuni istana Buckingham, mulai dari aktivitas Ratu Elizabeth II, Pangeran Charles, dan dua pangeran yang namanya menjadi sering jadi sorotan karena sosok almarhum ibu mereka, yaitu Putri Diana.

Barangkali masih ingat kejadian kecelakaan yang menimpa Putri Diana, 31 Agustus 1997. Konon kecelakaan itu terjadi karena ingin mengindar dari bidikan kamera paparazzi. Pada saat itu, Putri Diana bersama Dodi Al Fayed, pengusaha kaya berdarah Mesir, yang disebut-sebut menjalin hubungan asmara dengan sang putri. Keduanya meninggal akibat kecelakaan yang terjadi di terowongan Pont de l’Ama, Paris.

Kisah Putri Diana bisa dikatakan salah satu drama paling menggemparkan dari megahnya istana Buckingham.

Sorotan kepada kehidupan Royal sepertinya tidak akan pernah usai sepanjang kisah drama di dalamnya terus berjalan. Sepeninggal Diana, Pangeran Charles lalu menikah dengan mantan kekasihnya Camilla Parker Bowles. Istilah anak mudanya mereka CLBK, cinta lama bersemi kembali.

Kisah dari Royal juga berlanjut ketika Ratu Elizabeth yang belum berkeinginan mewariskan tahtanya kepada Pangeran Charles. Banyak pula spekulasi mengenai hal itu. Apalagi ketika Inggris memutuskam keluar dari Uni Eropa (Brexit), negara ini sepertinya menjalani krisis kepemimpinan dan Ratu Elizabeth sepertinya belum saatnya turun dari tahta kerajaanya.

Karena sikap sang ratu itu, muncul berbagai spekulasi yang mengatakan bahwa Charles akan hanya menyandang pangeran sepanjang hidupnya.

Saat ini sorotan tertuju pada dua putra Pangeran Charles dari pernikahannya dengan Putri Diana, yaitu Pangeran William yang menikah dengan Kate Middetown dan Pangeran Harry yang menikah dengan Meghan Markle.

Kedua pangeran ini yang tampaknya berpotensi melanjutkan tahta kepemimpinan Kerajaan Inggris.

Pangeran William, putra sulung Charles, menurut analisis sejumlah wartawan di lingkungan istana, punya potensi. Ia mewarisi sifat ibunya yang rada pendiam dan pemalu. Berbeda dengan Harry yang tampaknya lebih moderat dalam hal aturan istana.

Hal ini tampak dari prosesi pemberkatan pernikahan yang berlangsung di Kapel St George, Winsdor, dimana kejadian yang tak lazim terjadi. Misalnya ketika paduan suara kulit hitam mengisi acara prosesi pernikahan yang dihadiri 2000 undangan dan disaksikan sekira 100.000 orang dari luar kastil.

Meghan memang lahir dari ibu berkulit hitam dan ayah berkulit putih. Dia juga dikenal sebagai aktivis yang konsern terhadap isu rasisme. Pangeran Harry pun tampaknya mendukung visi Meghan sehingga memungkinkan hal yang tidak biasa, terjadi di istana.

Sabtu 19 Mei 2018 menjadi hari bersejarah bagi kerajaan Inggris, hari ketika seorang pangeran mendobrak kekakuan istana.

Hal yang tak lazim juga terjadi ketika tak seorang pun politikus mendapat undangan dari kerajaan untuk menghadiri Royal Wedding, termasuk Perdana Menteri Inggris, Teresa May. Harry tentu saja punya alasan khusus untuk hal ini. Ia hanya mengundang teman-temannya, kalangan pesohor dan lingkungan kerajaan.

Sebagaimana kehidupan para pendahulunya, kehidupan Harry yang setelah pernikahan ini mendapat gelar Duke Sussex dari Ratu Elizabeth, akan terus menjadi sorotan. Apalagi media Inggris punya reputasi memiliki pena yang tajam dalam hal mengulas kehidupan di Istana Buckingham.

Sebagai pengantar dunia baru, satu di antaranya Meghan Markle yang turut menyandang gelar Duke of Sussex akan mulai menjalani kehidupan baru, dari sebelumnya sebagai wanita karir di dunia perfilman dan aktivis, akan mulai menyesuaikan diri dengan agenda kerajaan. Mampukah ia? Tentu saja ini akan menjadi cerita atau bahkan drama baru yang menarik untuk disoroti.

Seperti serunya mengikuti laga di Premiere League (Liga Inggris), yang selalu punya daya tarik (magnitude) untuk diikuti, barangkali begitu juga kehidupan di Istana Buckingham.

Ia tak cuma memiliki efek drama, tapi juga efek entertainment yang berimbas pada efek bisnis, misalnya hak siar untuk merelay siaran langsung jalannya pernikahan dan satu lagi dari sisi pariwisata. Konon, tidak sedikit yang terbang dari berbagai belahan dunia terbang ke Inggris untuk menyaksikan secara langsung jalannya prosesi pernikahan Harry dan Meghan di Kastil Winsdor. Itu belum termasuk diskon 20 persen belanja di toko hadiah kastil Winsdor, yang diselipkan di goodie bag setiap tamu undangan.

Pada akhirnya, Royal Wedding merupakan kisah yang menjadi nyata dari sebagian imajinasi tentang kisah cinta seorang putri yang menemukan pangerannya. Ya, seperti di dalam kisah Disney, bedanya ini bukan fiksi, tapi, sekali lagi,.. kisah nyata.*

Tulisan terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *