Musik Blues yang Telah Melewati Masa Suramnya

Musik blues telah melewati masa yang panjang sebelum sampai titik di mana genre ini mencapai klimaknya. Dari masa suram perbudakan, blues menjelma menjadi musik yang kelasnya malah lebih berkelas dari pop.

Blues sekaligus menjadi akar musik yang telah populer pada abad ini, yaitu jazz.

Beberapa musisi memang telah berjasa mengangkat blues ke ranah pop dan membuatnya menjadi tidak asing. Beberapa musisi yang menjadi populer karena blues, di antaranya Eric Clapton, Stevie Ray Vaughn, hingga eranya John Mayer. Pada pencapaian mereka, blues diklaim menjadi milik semua orang.

Padahal, jauh sebelumnya, di era-era tak sedap—yaitu pada masa perbudakan kulit hitam pada era 1800-an hingga 1920-an—musik blues ialah bentuk protes. Musik blues kerap dinyanyikan pada budak pada saat memetik kapas di perkebunan majikan berkulit putih di Chicago, Missisipi hingga New Orleans.

Blues adalah pelarian dari nada-nada natural. Akar nada-nada blues ialah 1 – b3 – 4 – b5 – 5 – b7 – 1 yang dimainkan pada komposisi 12 bar. Nada-nada dikemudian dikenal dengan “blue notes”, yang pada perkembangannya menjadi akar musik jazz,—yang kini malah dibanggakan kaum kulit putih bahwa itu adalah musik mereka.

Pada masa perkembangannya tersebutlah sejumlah seniman yang telah mengangkat martabat blues dari musik masyarakat yang tak diacuhkan naik menjadi musik yang dimainkan di panggung broadway hingga Woodstock. Dari eranya legenda blues kulit hitam seperti Robert Johnson, Etta James, BB King, Albert King, Muddy Water, hingga Jimi Hendrix di era 70-an.

Sejak saat itu, orang tidak lagi memandang sebelah mata blues. Motown Records bisa dikatakan perusahaan dapur rekaman yang telah berjasa mempopulerkan musik blues dengan memproduksi kaset-kaset blues. Muncul kemudian artis-artis blues yang menginspirasi band-band ternama di kemudian hari, sebut saja band Rolling Stones, Led Zeppelin. Band kulit putih yang tak malu-malu lagi memainkan nada miring. Mereka yang dulunya mengagumi musik klasik dengan grand pianonya mulai menenteng gitar dan memainkan nada-nada blues. Dan mereka bangga menyebut diri mereka sebagai musisi blues, band blues hingga bluesman.

Terlepas dari sejarah pahit kaum Afro – Amerika, musik pada akhirnya menjadi media pemersatu. Musik bersifat universal, meskipun memang lirik yang ada di dalamnya sebagian besar fiksi—fiksi yang mendorong mereka ke dunia realita, yaitu agar terbebas dari perbudakan.

Kini, semua itu seolah terkikis dari blues. Dan blues bisa dinikmati, dimainkan dan dinyanyikan oleh siapa saja, tak pandang bulu apakah yang membawakannya Asia, Afrika, Amerika. Siapa saja bisa memainkan blues karena ia telah lepas dari masanya.

Setelah blues melewati masa suramnya itu, kini siapa saja bisa mengatakan,”Aku adalah musisi blues!” atau “Aku adalah bluesman”, terlepas dari mereka tahu latar belakang atau sejarah musik blues itu sendiri. Atau, mereka mengaku musisi blues tapi tak tahu catatan suram dalam blues.

Satu hal lagi, blues sangat identik dengan soul. Ini bisa dirasakan ketika misalnya mendengarkan BB King bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Ada ciri khas yang tidak bisa ditiru sehingga menandakan bahwa King bernyanyi dari akarnya.

Di era munculnya musisi blues seperti Clapton, Vaughn, hingga John Mayer, blues tak lagi soal ras. Blues telah lepas dari masa suramnya. Bahkan, genre ini telah menyatukan perbedaan.

Ketika Clapton bermain satu panggung dengan King, sekaligus telah menegaskan bahwa mari melupakan perbedaan warna kulit, mari tinggalkan perbedaan kelas karena di hadapan musik manusia punya hak yang sama.

Tulisan terkait

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *